[Ficlet] Piano ON Minggu, Desember 02, 2012 AT 12/02/2012 11:46:00 AM
Piano
~.~
Author
: Nissa Tria
Cast
: Girls’ Generation Yoona as Im Yoona
Super Junior Leeteuk as Park Jungsoo
Support
Cast : Girls Generation Yuri as Yuri Ommunim
Girls’ Generation Sunny as Sunny Lee
Genre
: Romance, angst
Length
: Ficlet (1765 words)
Rate
: [PG-13]
Disclaimer : Apologize me about the
OOC (Out Of Character), typo(s), and mistake(s). I not owned the canon,
they’re God’s, their family’s, and their fans’, but plot dan OC is mine. Thanks
for not copy-paste my plot (plagiarism), and don’t bash me.
~.~
Piano
A Ficlet by. Nissa Tria © 2012, All
Rights Reserved
~.~
Angin malam berhembus menerobos masuk melalui sebuah
jendela di kamar seorang gadis. Kepala gadis itu terangkat menatap jendela.
Mata bulatnya dengan polos mengikuti bagaimana gorden kamarnya itu
melambai-lambai oleh angin. Gadis itu mengucek matanya pelan, turun dari kasur,
lalu menutup jendela kamarnya itu dan menguncinya kuat-kuat agar tidak terbuka
hanya oleh sebuah hembusan angin saja.
Menghela
satu tarikan napas, gadis itu kembali berbaring tengkurap dan melanjutkan acara
menulis diari. Dengan hati yang ringan tanpa beban, gadis itu menuliskan semua
kejadian tak terlupakannya hari ini. Dia ingin menuliskan semua kejadian itu
hingga mendetail dan tidak boleh ada yang terlewat.
“Yoona-ah”
Sebuah
suara lembut membuat perhatiannya kembali teralihkan dari buku diari itu. Kedua
otot wajahnya tertarik ke atas, membuat bibir merah itu membentuk sebuah
lengkungan ke atas.
“Ommunim, ..” sapanya ramah, masih dengan
senyuman manisnya.
Perempuan
paruh baya yang dipanggil “Ommunim”
itu balik tersenyum pada gadis yang dipanggil “Yoona”. Ommunim mendudukkan pantatnya di samping tubuh Yoona. Perempuan
paruh baya itu membelai sayang puncak kepala Yoona,
“Tidak
makan malam, huh?” tanyanya perhatian yang direspon sebuah gelengan polos dari
Yoona,
“Mianhaeyo, Ommunim, .. aku sedang tidak bernafsu.”
Mendengarnya,
Ommunim mendesah berat yang sarat
akan kekecewaan, “tidak apa-apa, tapi jika kau ingin makan, di kulkas ada
banyak makanan yang bisa kau makan.” Ommunim
berucap pasrah terhadap kekeraskepalaan Yoona. Sudah sedari tadi dirinya
membujuk Yoona untuk makan malam, tapi tetap saja, pertahanan gadis itu memang
tidak mudah hancur.
Yoona
tersenyum. Diraihnya pipi tirus Ommunim
dan membelainya hangat, “aku akan makan, tapi nanti, setelah malam agak larut, Ommunim, jangan khawatir.” Ujar gadis
itu, berjanji pada Ommunim seraya
mengacungkan jari kelingkingnya yang langsung disambut hangat oleh Ommunim sebelum akhirnya perempuan paruh
baya itu bergerak meninggalkan kamar bernuansakan Rilakkuma itu.
~.~
Sesuai janjinya, Yoona pergi ke dapur untuk makan
malam ketika jam telah menunjukkan pukul 10:31 malam. Tangan gadis itu terulur
membuka pintu kulkas. Dilihatnya ada banyak makanan yang dapat dimakan untuk
makan malamnya.
Gadis
itu mengeluarkan sehelai roti tawar dari bungkusnya, mengoleskan selai kacang
cokelat pada permukaan roti tersebut lalu dikunyahnya dengan tenang. Mata polos
itu berputar menjelajahi semua yang terlihat di ruang makan ini. Tidak ada
banyak barang memang, tapi setidaknya ruangan ini sangat nyaman digunakan untuk
makan karena Ommunim sangat menjaga kebersihan
setiap ruangan di rumahnya, terutama ruangan yang sering digunakan.
Suasana
hening, dan malam semakin larut, tapi rupanya Yoona masih betah di atas
kursinya, mengunyah setiap bagian kecil roti di mulutnya dengan sangat tenang. Meskipun
terlihat tenang, sebetulnya Yoona sedang berusaha membuat pikirannya tetap di
tempat, agar pikirannya itu tidak melayang ke mana-mana, memikirkan hal yang
tidak-tidak dan mungkin terjadi di tengah suasana malam yang semakin
larut—seperti di dalam film hantu yang sering ditonton teman-temannya.
Beberapa
detik berlalu. Tubuh gadis itu menegang, dan kunyahan gadis itu mendadak berhenti.
Kepalanya kontan menoleh ke arah ponselnya yang terlihat tenang-tenang saja di
tempatnya.
Kening
Yoona berkerut. Kepalanya segera mengingat-ingat apakah dirinya mengaktifkan tone suara permainan piano untuk notif
ataupun telepon, tapi ternyata tidak. Jadi, tidak dapat disangkalnya kini
suasana hatinya mulai ketakutan, dan bulu kuduknya meremang.
Seingatnya,
Ommunim tidak memiliki apalagi
memiliki piano ataupun keyboard di rumahnya, dan juga Ommunim tidak suka mendengarkan musik keras-keras, karena tidak
ingin mengganggu orang lain yang juga berada di rumahnya.
“Lalu
…-“ Yoona menggeleng. Gadis itu menghentikan pikiran liarnya lalu segera
berlari menuju kamarnya tanpa membereskan ruang makan terlebih dahulu. Dirinya
terlanjur ketakutan, dan satu-satunya cara untuk meredam ketakutannya adalah
dengan berlari ke dunia mimpi dengan cara tidur.
Ya, hanya itu cara satu-satunya.
~.~
“Ommunim?”
Ommunim mengangkat sebelah alisnya
menjawab sapaan Yoona yang terdengar merengek. Mata perempuan paruh baya itu
tampak tidak lepas dari syal yang sedang dirajutnya, dan itu membuat Yoona
mendengus beberapa detik kemudian.
“Ommunim …” Yoona kembali merengek, tapi kali
ini Ommunim menjawab rengekan Yoona
dengan kepala yan gmenolehdan lekas bertanya singkat,
“Waeyo?”
Kali
ini Yoona tampak ragu untuk menanyakan apa yang bersarang di kepalanya semenjak
kejadian tadi malam, tapi bukankah tidak ada salahnya bertanya? Jadi, gadis itu
memutuskan untuk menanyakan hal itu pada Ommunim.
“Ommunim dengar suara piano tadi malam
tidak?”
“Hm?”
Tubuh Ommunim terlihat menegang,
tangan perempuan itu pun berhenti bergerak dan membiarkan jarum rajutnya jatuh
ke lantai, sehingga Yoona semakin mengerutkan keningnya. Gadis itu tahu, Ommunim sedang berusaha menyembunyikan
sesuatu darinya.
“Ommunim, .. jangan membuatku menjadi
penasaran …” Yoona kembali bersuara. Tangan gadis itu kini bergelayut manja di
lengan Ommunim.
Melihat semua itu, Ommunim mendesah. Tidak dikiranya Yoona akan seperti itu saking
penasarannya,
“Baiklah, baiklah … Ommunim akan memberitahumu, jika Ommunim juga mendengar suara piano itu tadi malam.” aku Ommunim pasrah seraya menatap Yoona
dengan mata sayu. Perempuan itu merasa bodoh mengatakannya, karena beberapa
detik kemudian, Yoona akan menanyakan dengan antusiasme tinggi tentang dari
mana asalnya suara piano itu.
“Ommunim tidak tahu, Yoona-ah, .. sudahlah, lupakan saja.” Perempuan
itu berucap seraya bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar dari kamar Yoona
menuju kamarnya sendiri.
Ommunim yakin, Yoona kini sedang dalam situasi yang sangat
berbahaya, jika seandainya Sunny mengatakan yang sebenarnya pada gadis itu …
~.~
Seorang gadis akhir dua puluhan tampak sedang berada
di taman belakang. Gadis mungil itu memakai gaun biru laut, sementara di
kepalanya bertengger manis sebuah bando pita. Tangannya dengan sigap menjemur
pakaian-pakaian basah yang dicucinya tadi. Bersenandung kecil, gadis itu
beberapa kali berputar, lalu menaruh keranjang cuciannya ke atas rumput.
Yoona
tersenyum kecil melihatnya. Itulah ciri khas seorang Sunny Lee, sahabat Yoona
sekaligus pembantu rumah tangga di rumah Ommunim.
Gadis yang beberapa tahun lebih tua darinya itu memang sangat lucu dan memiliki
tingkah pola yang dapat membuat orang-orang tertawa saking konyolnya. Salah
satunya, adalah gerakan tarian yang selalu dilakukannya ketika menjemur
pakaian.
“Sunny
Unni!” Yoona berteriak seraya meraih
pinggang kecil Sunny dan memeluk gadis itu dari belakang, lalu terkikik geli
bersama-sama.
“Ish
… Yoona-ya, sepertinya kau gemar
sekali memeluk pinggangku yang ramping ini,” ujar Sunny diiringi sebuah kikikan geli. Gadis itu melepas
lingkaran tangan Yoona dipinggangnya, dan menuntun Yoona menuju sebuah bangku
tempat mereka terbiasa saling bertukar pikiran.
“Jadi,
apa yang ingin kau bicarakan, nona?” Sunny bertanya formal dan mulai menatap
Yoona dengan serius, walaupun tidak dapat disangkalnya masih ada sedikit bumbu
geli yang mengiringi nada bicaranya.
“Aniyo, hanya heran pada sikap Ommunim ketika tadi aku bertanya tentang
suara piano yang mengalun tadi malam.”
Sunny
menoleh menatap Yoona yang tampak menunduk di tempatnya. Kening gadis itu
berkerut, “maksudmu dengan ‘suara piano yang mengalun tadi malam’ apa?” tanya
gadis itu hati-hati.
Menyenderkan
punggungnya pada sandaran kursi, Yoona mendesah, “tadi malam, sekitar pukul 11
malam lebih, ketika aku sedang makan malam, aku mendengarnya dan aku kira Unni juga mendengarnya.” kedua bahu
gadis itu terangkat acuh setelah selesai bicara. Ia lalu bangkit dari duduknya,
dan hendak berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Rasanya, tidak ada yang perlu
ditanyakan lagi pada Sunny, toh mungkin,
Ommunim telah menyuruh Sunny untuk
menutup mulut sebelum berbicara yang tidak-tidak padanya.
“Jamkkamanyo, Yoona-ya,”
Langkah
kaki Yoona terhenti. Kepala gadis itu berputar untuk menatap Sunny yang tampak
duduk gelisah di atas kursinya. Alisnya terangkat sebelah,
“Ne?”
“Kalau tidak salah, aku pernah mendengar jika di
rumah sebelah, ada sebuah piano besar berwarna putih, tapi sayangnya rumah itu
kosong …” ucap Sunny kental dengan nada gelisah ketika ia berbicara. Gadis itu
memelintir ujung gaunnya dan menatap ujung sepatunya, “dan aku dengar dari Ommunim, piano itu memang selalu
berbunyi ketika malam telah larut. ..” lanjutnya yang membuat Yoona mengerutkan
kening.
“Berbunyi … sendiri?” suara Yoona terdengar
bergetar, matanya menatap Sunny dengan serius.
“Mungkin …” Sunny menjawab, dan Yoona mendesah
beberapa detik kemudian …
~.~
Berdebu, gelap, dan pengap, kira-kira begitulah
suasana rumah ini, sebuah rumah tua yang tepat berada di samping rumah Ommunim. Ya, Yoona benar-benar
mengunjungi rumah itu karena rasa keingintahuannya yang begitu besar mengalahkan
rasa takut dan juga pikirannya yang mulai menyabang ke mana-mana begitu
memasuki pekarangan rumah ini.
Gadis
itu terbatuk kecil untuk beberapa saat begitu menyingkap sebuah kain putih yang
menyembunyikan sebuah sofa. Menggeleng, gadis itu mengenyahkan halusinasinya
yang berkata bahwa tadi dia seperti melihat orang berbaring di sana.
Suara derit kayu terdengar begitu dominan ketika
kaki kecilnya mengambil langkah untuk lebih masuk ke dalam rumah tua itu.
Beberapa saat kemudian—setelah ia memasuki sebuah
ruangan berpintu cokelat, langkahnya terhenti. Matanya membulat tak percaya
melihat apa yang ada di hadapannya kini; sebuah piano putih yang besar—seperti
yang Sunny katakan padanya.
Sementara kaki kecilnya kembali melangkah mendekati
piano tersebut, jantung gadis itu berdebar keras, entah kenapa.
“Ada penyusup rupanya, ..”
Tubuh gadis itu kontan berputar ketika sebuah suara
mengagetkannya. Matanya kembali terbelalak menatap seorang pria berwajah ramah
kini sedang menatapnya dengan tatapan hangat.
“Omong-omong, namaku Park Jungsoo, kau?” pria itu
bertanya dengan nada ramah seraya berjalan mendekati Yoona, lalu mengulurkan
tangannya.
Yoona menatap tangan yang terulur itu dengan
takut-takut. Perasaannya mulai tidak enak dengan apa yang ada di telapak tangan
pria itu.
“Tenanglah, aku tidak membalurkan apapun di telapak
tanganku, aku bukan orang jahat.” Seolah dapat membaca apa yang ada di dalam
pikiran Yoona, pria bernama Jungsoo itu berkata seraya meraih tangan Yoona
untuk berjabat tangan paksa.
“Im Yoona, namaku Yoona.” dengan gugup, Yoona
memerkenalkan dirinya. Beberapa detik kemudian, perlahan namun pasti, kedua
ujung bibir Yoona tertarik ke atas, membentuk sebuah lengkungan ke atas pada
bibirnya, “senang bertemu denganmu, ..” ucapnya lagi, malu-malu.
Sementara itu, Jungsoo tersenyum semakin lebar
menatap Yoona yang tampak mulai melunak padanya.
“Baiklah, kau mau aku ajari bermain piano?” tawar
Jungsoo yang langsung disambut oleh sebuah anggukan pasti dari Yoona.
Bagaimana pun, kesempatan itu hanya datang sekali
bukan? Jadi, untuk apa menolaknya?
~.~
Suasana pagi itu, cukup cerah, di mana matahari
bersinar lembut di langit dihiasi awan-awan putih yang tampak bergerak ditiup
angin pagi. Seorang perempuan paruh baya duduk di atas kursi taman belakang,
menyeruput teh hijau hangat seraya menikmati sinar matahari yang menerpa
kulitnya.
Menghirup
udara segar, perempuan itu membuka kelopak matanya. Seulas senyuman terukir di
wajahnya melihat seorang gadis berbalutkan gaun kuning tengah berlari-lari
dengan tangan mungilnya yang menenteng sehelai koran.
“Omm … hosh, .. Ommunim, .. hosh, .. hosh, ..” napas gadis itu begitu memburu, dan
dada gadis itu naik turun saking terlalu cepatnya ia berlari.
“Waeyo, Sunny-ah?” perempuan yang dipanggil Ommunim
itu dengan tenang kembali menyeruput teh hijaunya.
“Lihat
ini, Ommunim!” gadis itu segera
menyodorkan koran di tangannya pada Ommunim.
Raut wajahnya tampak sangat bersalah ketika melihat kening perempuan itu
berkerut membaca headline news koran
pagi ini.
‘Seorang Gadis Ditemukan Tewas dengan Luka
seperti Bekas Gigitan Ular pada Lehernya dan juga Tubuh yang Tertimpa Sebuah
Piano Putih.’
Kira-kira
begitulah yang tertulis di headline news koran
yang dibawakan Sunny. Ommunim mengangkat
wajahnya, menatap Sunny dengan ekspresi terluka, “sudah kuduga, akan ada korban
lain.” Ucapnya singkat, tapi dapat membuat Sunny meneteskan air mata.
“Ommunim, jeongmal mianhaeyo …”
~.~
.::FIN::.
~.~
Label: Angst, AU, Fan Fiction, Ficlet, Girls' Generation, Leeteuk, Mysteri, Sunny, Super Junior, Yoona, Yuri